Tuesday, February 19, 2008

Ayat - Ayat Cinta

Akhir-akhir ini, di milis "keluarga" banyak beredar diskusi tentang Film Ayat-ayat cinta.... umumnya anggota milis ini merasa kecewa dengan filmya, dari mulai cerita, tokoh, sampai akting para tokoh. Memang untuk mereka yang sudah membaca novel nya terlebih dulu, film nya jadi mengecewakan, karena banyak sekali nilai2 yang termuat dalam novel, tereduksi drastis di film (rasanya karena alasan komersil). kalo di liat dari produser, sutradara dan pasar, hal ini wajar. produser non muslim, dan sutradara nya bukan orang yang memahami lebih jauh tentang syariah.... selain itu, pasar film ini (orang-orang Indonesia) juga sebagian besar adalah orang-orang yang boleh dibilang sedikit asing dengan nilai-nilai yang termuat di novel... jadi cukup realistis kalo ceritanya dirubah (disesuaikan dengan pasar)

Pertama kali menonton film ini pun gw merasa amat kecewa...... filmnya sangat jauh dari khayalan gw...... tapi, kemudian gw berfikir dan bertanya dalam hati : "seandainya novel best seller ayat2 cinta tidak pernah diterbitkan sebagai sebuah buku, dan seandainya salman aresto, sang penulis skenario, murni menulis skenario ini tanpa diilhami dari ceritanya kang abik, andai film ini berdiri sendiri, tanpa didahului oleh sebuah novel best seller, apakah gw juga akan kecewa dengan film nya...?". pertanyaan ini membuat gw penasaran, lalu karena itu, gw coba tonton film ini sekali lagi, dengan tidak mencoba untuk membanding2 kan cerita di film dengan yang ada di novelnya.... hasilnya.... gw cukup tergugah dengan beberapa nilai yang dipasangkan di beberapa adegan, dan secara umum, film ini membuat gw terkesan.

Buat gw, film ayat-ayat cinta ini adalah film layar lebar pertama Indonesia yang memperkenalkan nilai nilai islam yang hingga saat ini masih asing bagi sebagian besar warga Indonesia. Nilai seperti seorang muslim dan muslimah yang non muhrim tidak boleh besentuhan, tidak ada pacaran dalam islam, taaruf, poligami, dll, yang walaupun digambarkan secara singkat dan dalam porsi minimal, tapi cukup untuk mengantarkan penontonnya ke sebuah wawasan yang lebih mendalam tentang islam. ada harapan bahwa seorang yang menyaksikan film ini akan bertanya2 tentang nilai2 yang digambarkan dalam film tsb, dan kemudian mencari tahu tentang kebenarannya. dari sini terbukalah peluang seseorang mengenal islam lebih jauh.

Lebih jauh, menurut gw, film ini pun bisa dijadikan modal bagi para dai untuk berdakwah... setidaknya diskusi tentang film ini dengan para mad'u bisa dijadikan obrolan pembuka untuk mengawali sharing nilai yang lebih dalam.

Tentang kualitas akting pemain dan pengambilan gambar, gw ga mau sok tahu untuk berkomentar, karena gw nggak berkompeten dalam hal ini. buat gw, hanung yang sudah sering mendapatkan penghargaan, tentu akan berjuang keras untuk membuktikan kualitasnya, termasuk dalam penentuan lakon, penggambaran karakter dan pengambilan gambar.

No comments: